Kenali Apa Arti Broken Home agar Keluarga Tetap Utuh & Harmonis

Setiap hari si Kecil mendengar isak tangisan ayah atau ibu. Mereka kerap bertengkar dan membuat anak ketakutan. Hal tersebut seharusnya mendorong orang tua untuk berperilaku harmonis meski tengah menghadapi sebuah masalah agar tidak memengaruhi kondisi mental anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua mengetahui apa arti broken home.

Anak broken home akan mengalami perasaan yang terluka mengetahui kedua orang tuanya akan berpisah. Tidak ada lagi perasaan hangat di antara mereka, yang tersisa hanya ketakutan dan kebencian pada salah satu orang tuanya. Yuk, ketahui lebih dalam mengenai perasaan anak broken home dan dampak broken home pada anak di sini!

Definisi Broken Home

Kata-kata broken home sering sekali terdengar oleh banyak orang, tapi apa itu broken home? Broken home adalah sebuah istilah dalam sebuah keluarga yang tidak harmonis, sehingga harus mengalami perpecahan hingga berujung perpisahan. Kondisi ini terjadi karena kondisi keluarga yang tidak lagi utuh karena perceraian atau salah satu orang tua meninggal. Selain itu, kondisi broken home timbul karena keluarga mengalami konflik, hinga perilaku buruk.

Lebih lanjut terdapat pengertian broken home dari para ahli. Berikut pengertian broken home menurut para ahli.

Wells

Menurut Wells, broken home adalah sebuah keluarga yang mengalami perpecahan karena kematian, perceraian, seseorang yang tidak menikah, dan mengakibatkan melakukan tindakan kriminal.

Quensel

Menurut Quensel, broken home adalah penggambaran dari sebuah keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan seperti keluarga. Adanya konflik yang terjadi membuat pertengkaran hingga berakhir menjadi sebuah perpisahan.

Baca juga: 4 Jenis Pola Asuh Orang Tua yang Tepat bagi Anak

Penyebab Broken Home

Saat sebuah mengalami perpecahan hingga perpisahan, maka hal tersebut perlu mencari tahu apa penyebabnya. Sehingga, jika mengetahui penyebab broken home dengan cepat, maka hal-hal yang tak diinginkan dapat terhindar. Apalagi dampaknya bisa berakibat kepada mental anak broken home yang mudah emosi dan sebagainya. Berikut penyebab broken home.

Perceraian Orang Tua

Perceraian kerap menjadi faktor utama yang membuat kondisi rumah tangga masuk dalam kategori broken home. Perpisahan antara ayah dan ibu meninggalkan luka yang mendalam bagi anak-anak. Tentunya mereka akan kebingungan dalam memilih tinggal dengan ayah atau ibu mereka, belum lagi mereka harus siap menerima stigma masyarakat yang buruk terhadap keluarga yang mengalami perceraian.

Ketidakdewasaan Orang Tua

Tidak jarang orang tua memiliki sifat egoisme dan egosentrisme yang membuatnya kerap bertikai satu sama lain. Padahal sifat egoisme merupakan sifat buruk pada diri manusia yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan, egosentrisme merupakan sikap yang menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua sebelum menikah dan awal pernikahan sadar betul untuk menghindari sifat egois.

Tidak Ada Rasa Tanggung Jawab Orang Tua

Kesibukan orang tua akan karir, hubungan sosial, atau hobi dapat mengikis rasa tanggung jawab pada keluarganya. Seorang ayah yang terlalu sibuk bekerja, lalu sepulang dari kantor ia larut dalam hobinya.

Sebaliknya, sang ibu juga terlalu asyik dengan kesibukannya bersosialisasinya dengan teman-temannya. Belum lagi jika ibu kecanduan menonton drama korea seakan menjadi prioritas utama dibandingkan mengurus anaknya.

Jauh dari Tuhan

Faktanya, hubungan suami-istri merupakan hubungan segitiga dengan tuhan. Tuhan diibaratkan berada di sisi paling atas, suami di sisi sebelah kiri dan istri di sisi sebelah kanan. Jika mereka dekat dengan Tuhan, maka hubungan rumah tangga yang harmonis akan tercipta. Namun, sebaliknya jika mereka berpaling dari Tuhan, maka mereka akan mendapatkan rumah tangga yang tidak harmonis.

Oleh karena itu, kedekatan dengan Tuhan juga menjadi hal yang utama dalam sebuah pernikahan. Semakin jauh dari Tuhan, maka akan semakin banyak godaan yang menghampiri setiap pasangan suami-istri. Hal tersebut bisa terjadi mulai dari berzina, berjudi, berselingkuh, berbohong, atau menipu menjadi petaka dalam sebuah rumah tangga.

Faktor Ekonomi

Keributan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga bisa juga disebabkan oleh faktor ekonomi, seperti PHK yang suami alami. Ketidakpuasan akan materi yang istri tuntut kepada suami membuat ia merasa tertekan.

Sebenarnya, kebutuhan dasar manusia mulai dari sandang, pangan, dan papan perlu terpenuhi. Apa akibat jika suami tidak mampu memberikan nafkah yang cukup bagi keluarga? Entah bisa terjadi karena suami mengalami PHK, atau rendahnya rasa juang dalam mencari nafkah bagi keluarga.

Kehilangan Kehangatan dalam Keluarga

Menghabiskan waktu bersama keluarga adalah hal yang perlu terjalin setiap harinya. Apa yang terjadi jika di dalam suatu rumah mereka larut dalam kesibukannya masing-masing? Berbincang santai sembari memakan-makanan favorit anggota keluarga dapat membuat kehangatan dalam keluarga.

Bisa dibayangkan jika dalam suatu keluarga saling memberi perhatian satu sama lain. Pasti menyenangkan. Berbeda halnya jika mereka tidak mendapatkan kehangatan kasih sayang keluarga. 

Kurangnya Edukasi dalam Hubungan Rumah Tangga

Membangun bahtera rumah tangga adalah sebuah ibadah yang mendapatkan pahala yang banyak, karena menjalani ujian yang ada akan semakin berat. Sehingga, sangat penting mendapatkan edukasi dini dalam membangun rumah tangga yang harmonis agar saling menyayangi, menghormati, dan menghargai satu sama lain. 

Baca juga: 8 Cara Mendidik Anak agar Cerdas bagi Orang Tua

Dampak Buruk Broken Home bagi Anak

Setiap anak yang mengalami broken home tentu akan mendapatkan dampak buruk terutama mentalnya. Sehingga, penting bagi orang tua dalam membangun rumah tangga agar saling mempererat hubungan harmonis. Berikut dampak buruk broken home bagi anak.

Rendahnya Rasa Percaya Diri

Anak yang mengalami kondisi broken home akan mengalami kehilangan rasa percaya diri. Alasannya, karena tekanan mental yang ia terima. Kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua menjadikannya sebagai anak yang rendah diri. 

Lemahnya Iman

Sosok figur positif harus anak punya. Alasannya, karena sosok figur positif dapat menjadikan mereka dekat dengan Tuhan lantaran mengajarkan nilai-nilai agama. Anak yang tidak memiliki figur positif akan hilang arah dan semakin jauh dari Tuhan. Mereka bisa tumbuh menjadi anak yang jauh dari agama dan melakukan perbuatan tercela. Oleh karena itu, sangat penting untuk orang tua mendidik anak dengan pola agama sejak dini.

Kurang Kasih Sayang

Kurangnya perhatian yang orang tua berikan kepada anak dapat membuatnya tidak merasakan kasih sayang. Mereka akan menjadi anak yang tidak terbiasa mengutarakan perhatian pada orang lain. Ia bisa menjadi sosok yang dingin, cuek, ataupun kasar.

Gangguan Mental

Faktanya, anak dapat mengalami trauma jika melihat orang tuanya bertengkar, kekerasan fisik, atau verbal. Seiring berjalannya waktu, ia akan merasa selalu cemas, takut, tertekan, bahkan ingin mengakhiri hidup. Gangguan mental bukan hal yang mudah untuk disembuhkan, namun untuk lebih memahami permasalahan.

Benci pada Orang Tua

Anak bisa merasakan kecewa karena kurang mendapatkan rasa kasih sayang dari orang tua. Belum lagi jika anak mendapatkan perilaku kekerasan dari orang tuanya, sehingga sulit baginya untuk menghapus memori tersebut sehingga membentuk rasa benci.

Menarik Diri

Anak yang mengalami broken home tapi tidak cerai atau cerai akan menarik diri dari lingkungannya. Ia akan merasa takut akan pandangan orang lain, khususnya teman-temannya. Anak akan merasa iri atas keharmonisan keluarga orang lain. Sehingga, membuat anak ingin menyendiri untuk mendapatkan kesempatan berdamai dengan keadaan yang menimpanya.

Insecure

Rasa insecure atau kecemasan akan terjadi pada anak yang hidup dalam lingkungan broken home. Anak bisa takut akan masa depannya, takut bertemu orang baru, takut dikhianati, takut merasa tersakiti, sehingga takut ditinggalkan. Hal tersebut karena kurangnya kasih sayang yang cukup dalam diri mereka.

Pemberontak

Anak yang tumbuh dalam kondisi broken home cenderung menjadi pemberontak. Rasa kecewa yang mereka alami, kurangnya perhatian dan hilangnya kepercayaan pada sosok orang tua menjadikan anak tidak lagi menghargai orang tuanya.

Cara Mengatasi Broken Home

Jika mendapati kondisi yang tidak ideal hendaknya sepasang suami-istri harus mencari solusi demi kebaikan anak-anak mereka. Jika usaha mediasi gagal dan tidak ada jalan lain, maka perpisahan tidak dapat terelakan lagi. Meski harus bercerai hendaknya orang tua tahu cara menenangkan anak broken home. Beriku cara mengatasi broken home.

Mengajak Anak Mendekatkan Diri dengan Tuhan

Orang tua dapat mengajak anak untuk merefleksikan kehidupan yang terjadi saat ini. Tanamkan nilai-nilai agama dan yakinkan bahwa apa yang sudah menjadi takdir adalah skenario terbaik yang Tuhan berikan.

Melakukan Co-parenting

Anak yang tengah menghadapi sebuah kondisi broken home tentu tidak bisa memilih untuk tinggal bersama salah satu orang tuanya. Dari lubuk hatinya yang mendalam, tentu ia ingin bersama kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua menahan ego agar tetap melakukan co-parenting untuk membesarkan anak bersama-sama.

Tidak Membohongi Anak

Ketika bahtera rumah tangga sudah tidak bisa terselamatkan dan harus berpisah, orang tua tidak boleh berbohong kepada anak dengan alasan apapun. Berikan penjelasan sederhana mungkin bahwa ayah dan ibu sudah tidak bersama lagi. Beritahu juga mereka bahwa perpisahan tersebut bukanlah salah anak, namun karena adanya kesepakatan yang ayah dan ibu pilih untuk menyelamatkan masa depan anak.

Memberikan Perhatian Lebih

Meskipun sudah tidak bersama-sama lagi, pastikan orang tua memberikan perhatian yang sama bahkan lebih. Bangun kembali kedekatan dengan anak agar anak tidak merasa kehilangan. Pahami love language anak agar mengerti apa yang anak rasakan.

Mengajak Anak Berempati pada Orang Lain

Tidak ada salahnya jika membawa anak pergi melihat anak jalan yang barus bergelut mencari nafkah di jalan. Tanamkan rasa empati pada anak-anak yang kehilangan orang tua sejak kecil dan anak yang harus berjuang di jalanan untuk mencari sesuap nasi. Berikan penjelasan bahwa kehidupan sang anak jauh lebih baik dari mereka, serta ajak mereka bersedekah agar mereka terbiasa menebar kebaikan dengan mencintai sesama.

Berdamai dengan Keadaan

Mendapati rasa kecewa atau sedih tidak salah. Bahkan tidak perlu lari dari keadaan sampai harus menyalahkan diri sendiri. Minta maaf kepada anak atas segala perlakuan atau kejadian buruk yang mereka hadapi. Biarkan mereka menyelami segala emosi yang dirasakan, dan ajak mereka untuk berdamai dengan keadaan.

Related Posts

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Recent Stories