Apa Itu Tantrum dan Bagaimana Cara Mengatasi Anak Tantrum?

Ibu tahu apa itu tantrum dan apa penyebabnya? Ibu pasti panik dan juga bingung apabila Si Kecil mengalami tantrum. Pada dasarnya tantrum merupakan kondisi di mana Si Kecil meluapkan emosi berupa rengekan, tangisan, teriakan, atau kemarahan yang terkadang mereka bisa melakukan hal-hal seperti melempar barang. Hal tersebut dikarenakan, dalam meluapkan emosi, mereka tidak bisa menyampaikannya secara langsung.

Menurut Eileen Hayes dalam bukunya yang berjudul Tantrum menyatakan bahwa tingkah laku terburuk pada tantrum biasanya terjadi pada usia 18 bulan hingga 3 tahun. Akan tetapi, pada anak usia 5 tahun hingga 6 tahun masih terjadi tantrum, namun secara interval tidak sesering anak usia 3 tahun ke bawah. Tantrum pada anak, akan mulai berkurang ketika mereka berusia 4 tahun.

Kemudian, seorang psikolog bernama Michael Potegal, dalam bukunya yang berjudul Temper Tantrums in Young Children, menyebutkan dan menjelaskan ada dua jenis tantrum berdasarkan landasan emosional dan tingkah laku, di antaranya.

  • Tantrum amarah (anger tantrum): tantrum jenis ini ditunjukkan anak melalui memukul, berteriak, menghentakkan kaki, dan juga menendang.
  • Tantrum kesedihan (distress tantrum): tantrum jenis ini ditunjukkan melalui menangis terisak, membantingkan diri.

Dalam bukunya, Hayes juga menambahkan ada beberapa fakta dan temuan penting pada anak tantrum, di antaranya:

  • Dalam beberapa penelitian, terdapat sekitar 50% – 80% anak prasekolah yang mengalami tantrum. Kesimpulannya, bahwa hal ini sangatlah normal.
  • Sebuah penelitian menunjukkan 5% – 20% anak-anak dengan tantrum yang menginginkan kepedulian dari orang tuanya.
  • Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa penyebab utama tantrum adalah konflik dengan orang tua, umumnya konflik mengenai makanan (16,7%), meletakkan anak di baby stroller atau di kursi tinggi (11,6%), pemakaian baju (10,8%), dan sisanya paling banyak terjadi saat anak lapar di kala petang.
  • Umumnya, ada tahapan yang berbeda menurut tanda peringatan dari anak, di antaranya menginginkan perhatian atau mencari masalah. Namun, tantrum tersebut seringkali diakhiri dengan tangisan atau mau untuk dibujuk.
  • Banyak peneliti yang mengungkapkan bahwa tingkat parah terjadi minimal 3 kali sehari selama 15 menit. Selain itu, terdapat 6,8 persen dari 502 sampel anak yang mengalami tantrum tingkat parah.
  • Secara mengejutkan, lebih sering dialami pada anak laki-laki.
  • Meski belum terbukti secara jelas, beberapa menunjukkan bahwa keadaan rumah tangga yang kurang nyaman menjadi penyebabnya.
  • 35% tantrum diakhiri dengan dekapan dan sang anak yang lebih dulu mendekati orang tua.
  • Terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa menghisap ibu jari atau mainan lembut dilakukan setelah mengamuk atau merengek.

Namun, Jan Parker dan Jan Stimpson, dalam bukunya yang berjudul Raising Happy Children, memaparkan dua jenis yang berbeda apabila dibandingkan dengan Potegal:

  • Tantrum yang berawal dari kesedihan dan juga amarah.
  • Tantrum yang berakar pada kebingungan dan ketakutan.

Kemudian, ada beberapa penyebab mengapa anak bisa meluapkan emosinya, apa sajakah itu?

Penyebab Anak Tantrum

Anak sedang marah

1. Ketakutan

Penyebab pertama adalah ketakukan. Ketakutan ini bisa disebabkan oleh beberapa aspek seperti melihat orang yang baru ataupun mendengar suara yang tiba-tiba muncul.

Selain itu, Si Kecil juga bisa mengamuk atau menerengek akibat ketakutan ketika Ayah dan Ibu meninggalkan mereka. Orang yang dekat atau sering terbiasa bersama seperti pengasuh yang meninggalkan mereka membuat mereka ketakutan.

2. Lingkungan

Si Kecil juga bisa menangis apabila mereka berada di lingkungan tertentu, seperti lingkungan yang terlalu ramai, berisik, atau sempit. Di lingkungan tersebut seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman. Di samping itu, tempat yang terlalu ramai juga membuat peredaran udara menjadi semakin tidak baik, sehingga Si Kecil merasakan sesak.

3. Menerima Kata-Kata Tertentu

Mungkin Ayah dan Ibu sering menemukan anak sedang menangis merintih atau mengamuk ketika Ayah dan Ibu melarang mereka melakukan sesuatu dengan cara mengancam dan menakut-nakutinya. Atau Ayah dan Ibu tidak mau membelikan mainan baru. Hal tersebut bisa menyebabkan anak mengamuk. Dengan demikan, agar anak tidak menjadi-jadi, Ayah dan Ibu bisa melarangnya dengan cara yang lebih baik.

4. Frustasi

Karena anak usia 3 tahun ke bawah masih banyak yang belum bisa menyampaikan sesuatu melalui kata-kata, mereka akan mengekspresikan kefrustrasian mereka melalui tangisan atau rengekan. Rasa frustrasi ini bisa ditimbulkan oleh banyak hal, di antaranya adalah sakit, kegarahan, ataupun rasa nyaman.

5. Kelaparan

Mungkin orang dewasa bisa langsung membeli atau menyiapkan makanan apabila kelaparan. Berbeda dengan orang dewasa, karena mereka tidak bisa mengungkapkan ketika mereka lapar, Si Kecil akan merengek, apalagi apabila Si Kecil telat makan. Nah, Ibu bisa menyiapkan makanan kecil dalam waktu yang lebih sering untuk Si Kecil agar tidak sering mengalami tantrum.

6. Kelebihan Stimulasi

Kelebihan stimulasi ini bisa diakibatkan ketika Si Kecil tidak nyaman atau merasa kelelahan. Kejadian ini bisa dialami ketika Si Kecil berada dalam lingkungan yang sangat ramai. Hal tersebut akan mengakibatkan Si Kecil merengek karena merasa tidak nyaman.

Dari penjelasan tentang mengapa anak bisa mengamuk di atas, Ibu tak perlu panik dan khawatir apabila menghadapi Si Kecil yang marah atau merengek. Ada beberapa cara bagaimana Ibu menghadapi Si Kecil yang sedang tantrum tanpa harus mengalami kekerasan fisik ataupun psikologis. Berikut penjelasannya.

Bagaimana Ketika Si Kecil Mengalami Tantrum? Apa yang Harus Dilakukan

Dari penelitian yang ditunjukkan oleh Hayes, bisa disimpulkan bahwa tantrum pada anak balita sangatlah normal. Maka dari itu, Ibu tak perlu panik, dan ikuti cara-cara berikut.

1. Alihkan Perhatian Si Kecil

Apabila Si Kecil mulai terlihat mengamuk, namun belum dalam tahap yang parah, Ibu bisa alihkan perhatian Si Kecil melalui suatu kegiatan seperti mengajaknya bermain, atau setidaknya libatkan mereka pada suatu kegiatan agar perhatian Si Kecil teralihkan.

2. Tetap Tenang

Si Kecil mulai memberikan tanda-tanda seperti mengamuk atau menangis merintih? Ibu sebaiknya tenang dan jangan panik. Karena apabila Ibu juga dalam kondisi panik, bisa-bisa Ibu memarahinya dan Si Kecil malah tidak berhenti mengamuk atau merengek.

3. Apabila Mengamuk Abaikan

Ketika Si Kecil mengamuk, tentu Ibu akan panik. Di sini sebisa mungkin Ibu tetap tenang dan mengabaikan amukan Si Kecil. Dengan mengabaikan amukan ini, Ibu memberikan tanda bahwa Ibu tidak suka dengan amukan Si Kecil dan ini juga mengajarkan agar Si Kecil lebih disiplin.

4. Jauhkan Si Kecil Dari Tempat Umum

Tidak jarang Si Kecil menangis merintih ataupun mengamuk di tempat-tempat ramai seperti di supermarket maupun mall. Apabila Si Kecil mulai mengamuk dan merengek, coba Ibu jauhkan mereka dari tempat umum.

5. Jaga Kondisi Agar Tetap Aman

Apabila Ibu menemukan kondisi di mana Si Kecil mengamuk, Ibu sebaiknya menjaga agar Si Kecil jauh dari benda-benda yang mampu melukai mereka.

6. Pertimbangkan Permintaan Mereka

Tidak semua permintaan anak harus dipenuhi ya, Ibu. Maka dari itu, sebagai Ibu, Ibu harus mempertimbangkan permintaan anak, karena permintaan yang selalu dipenuhi, justru tidak selalu solutif.

Related Posts

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Recent Stories