Bagaimana Mengajarkan Anak Menghadapi Rasa Takut dan Cemas?

Rasa takut atau cemas adalah respon yang sangat manusiawi apabila seseorang menemukan sesuatu yang mengancamnya. Begitu juga rasa takut yang dirasakan oleh anak-anak. Akan tetapi, rasa takut ini apabila tidak bisa dikelola, justru membahayakan seseorang. Anak yang selalu rasa takutnya mendominasi membuat diri mereka cenderung menjadi pengecut dan juga tidak mandiri. Ia akan selalu ketergantungan dengan hal-hal di luar mereka. Maka dari itu, Ibu, sebagai orang tua kita ajarkan anak kita agar mengelola rasa ketakutan dan berani menghadapi sesuatu agar mereka menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Akan tetapi, rasa takut pada anak itu ada penyebabnya, Ibu. Apa saja yang menyebabkan mereka takut dan cemas?

Penyebab Anak Memiliki Rasa Takut dan Cemas

Rasa takut atau cemas adalah hal yang normal apabila kita menemukan hal yang tidak pasti atau mengancam. Namun, ketakutan dan kecemasan yang berlebih seringkali tidak memunculkan solusi yang konkret. Tidak jarang ketika seseorang didominasi ketakutan dan kecemasan, justru membuat mental mereka tidak sehat. Begitu juga dengan anak-anak, Ibu. Coba ketahui apa yang menyebabkan ketakutan dan kecemasan mereka muncul terhadap sesuai. Berikut penyebab ketakutan dan kecemasan yang dirasakan oleh anak.

1. Mengalami Bullying

Bullying penyebab rasa takut

Bullying tak hanya dapat melukai fisik anak, namun juga psikologis mereka. Korban bullying biasanya memiliki rasa percaya diri yang rendah diakibatkan rasa tidak layak yang dialaminya. Tak jarang trauma yang diakibatkan bullying ini tertanam hingga seseorang tumbuh dewasa Bahkan, bullying bisa menyebabkan depresi atau sampai paling parah bunuh diri.

2. Berada di Lingkungan Baru

Rasa Takut Akibat di Lingkungan Baru

Sebagian orang tua memiliki pekerjaan yang menuntut mereka dinas ke luar kota atau sering berpindah-pindah tempat. Hal ini yang sering menyebabkan anak merasa ketakutan atau cemas apabila dihadapkan dengan situasi baru. Apalagi mereka sudah nyaman di lingkungan sebelumnya. Ketakutan akan lingkungan baru bisa disebabkan oleh citra mereka tentang merasa sepi di tempat baru karena tidak memiliki teman yang cocok.

3. Kondisi Tubuh Anak

Rasa Takut Akibat Tubuh Sendiri

Setiap anak memiliki kondisi tubuh yang berbeda-beda. Ada yang kurus atau juga gemuk. Namun, karena bentuk tubuhnya ini justru membuat orang merasa aneh atau tergelitik untuk mengomentari. Terlebih ketika seorang anak pernah mengalami bully karena bentuk tubuhnya.

4. Memiliki gejala Agoraphobia

Rasa Takut Agoraphobia

Agoraphobia merupakan gangguan kecemasan atau ketakutan akan situasi di mana sang penderita merasa sulit untuk pergi dan merasa tidak bisa menemukan cara untuk keluar dari situasi atau tempat. Gejala yang dialami penderita agoraphobia biasanya merasa cemas secara berlebihan ketika mereka berada di tempat umum. Selain itu, orang yang mengalami gangguan agoraphobia ini juga takut apabila meninggalkan rumah sendiri. Alhasil mereka bisa mengalami gejala-gejala seperti detak jantung yang cepat, nyeri dada, gangguan menelan, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, masalah ketakutan ini bukannya tidak ada solusi. Berikut ada beberapa cara agar kitab isa mengatasi kecemasan dan ketakutan pada anak.

Bagaimana Mengajarkan Anak Agar Bisa Menghadapi Rasa Takut?

1. Membangun Kepercayaan Diri Pada Anak

Untuk menjadikan anak mandiri Ibu dan Ayah patut mengajarkan mereka untuk menjadi percaya diri karena kepercayaan diri adalah pondasi agar bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Dalam membangun kepercayaan diri pada mereka di saat mereka usia dini, Ibu bisa mengaplikasikan metode Montessori. Metode pembelajaran Montessori ini memiliki tujuan untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian berbasiskan tanggung jawab dengan cara membebaskan apa yang mereka pilih.

2. Menjadi Contoh untuk Mereka

Tak ada yang bisa menjadi contoh paling utama untuk anak kecuali orang tuanya sendiri. Sebagai orang tua yang ingin anaknya mandiri, tentu Ayah dan Ibu harus menjadi contoh yang baik. Ayah atau Ibu tak perlu menunjukkan hal-hal besar seperti terjun ke medan perang di hadapan mereka. Hanya menunjukkan keberanian kecil anak akan belajar dari apa yang Ayah atau Ibu lakukan.

3. Adanya Sosok Pemberani

Film-film atau serial pahlawan super yang ditayangkan di TV atau bioskop pada masa lalu mengajarkan kita bahwa keberanian bisa mengalahkan tantangan sulit. Ambil saja contoh, dulu ketika Ibu dan Ayah kecil pasti pernah menonton serial pahlawan super seperti Power Rangers yang dengan berani menghadapi monster berukuran besar. Nah, ini bisa Ibu dan Ayah jadikan cara mendidik anak dengan memberikan tayangan serial pahlawan super yang gagah berani. Atau Ibu dan Ayah bisa menceritakan tentang pahlawan kemerdekaan yang berani melawan penjajah.

4. Berikan Tantangan dan Pujian

Mengajarkan menjadi berani tidak akan aplikatif apabila tidak diimplementasikan. Dengan demikian, Ibu dan Ayah perlu memberikan mereka tantangan seperti mengenalkan diri di depan kelas atau bernyanyi di panggung. Setelah memberikan mereka tantangan, Ibu dan Ayah juga perlu untuk memujinya atau memberikan mereka reward yang tak perlu besar, namun membuat mereka merasa terapresiasi.

5. Bawa Mereka Terapi ke Psikolog atau ke Psikiater

Agoraphobia bisa diidap oleh anak-anak dan gangguan ini bisa terjadi pada anak kita. Apabila anak mengalami agoraphobia, sebaiknya bawa ke psikiater atau psikolog. Namun, untuk mengetahui anak kita mengidap agoraphobia kita harus tahu gejala-gejala yang dialami mereka. Dengan ini, tak ada salahnya kok, Ibu, membawa anak ke psikiater atau psikolog.  

Related Posts

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Recent Stories