Bagian Tubuh Anak yang Tidak Boleh Dipukul dan Dampak Ke Depannya

Ada bagian tubuh anak yang tidak boleh dipukul ya, Ibu. Mendidik anak dengan cara memukulnya kini masih jadi perdebatan. Apakah layak atau tidak memukul anak, terlebih anak usia 5 tahun ke bawah. Meski, sekarang zaman sudah lebih maju dan perkembangan metode parenting sudah semakin mutakhir, ternyata, sayangnya, cara mendidik dengan cara memukul anak masih kerap dilakukan dan diwajarkan oleh beberapa orang tua di Indonesia.

Bagian Tubuh Anak yang Tidak Boleh Dipukul dan Dampaknya - Memarahi Anak

Steve dan Shaaron Bidulph dalam bukunya yang berjudul Mendidik Anak dengan Cinta: Petunjuk bagi Orang Tua Agar Anak Menjadi Bahagia (versi terjemahan) menyatakan bahwa alasan sejumlah orang tua memukul anak-anaknya adalah menunjukkan kasih sayang dan perhatian. Selain itu, pembenaran dari memukul anak bagi orang tua-orang tua tersebut agar anak bisa dikontrol sejak dini dan tidak tumbuh menjadi anak nakal.

Beberapa dari mereka mungkin menurunkan apa yang generasi sebelumnya lakukan. Mungkin menurut mereka itu cara yang efektif. Kemungkinan juga, referensi mereka tentang mendidik anak juga terbilang kurang. Maka dari itu, mereka masih menghukum atau mendidik anak dengan cara memukul. Namun, apakah itu efektif?

Memang, sebagai orang tua, kita memiliki ekspektasi kita sendiri kepada anak ya, Ibu. Kita ingin anak kita cerdas, kita ingin anak kita rajin, dan kita ingin anak kita menuruti apa yang kita. Dengan demikian, kita mencoba mengontrol secara penuh apa yang terjadi pada kita dan anak kita. Tak jarang anak kita justru membuat kita jengkel.

Kejengkelan kita terhadap anak terkadang bukan karena ekspektasi kita saja, namun juga karena tingkah laku mereka yang secara spontan membuat kita kesal. Apalagi anak sedang mengalami tantrum yang membuat kita tak hanya panik, namun juga kesal. Namun, Ibu, sebagai orang tua apakah kita harus mengakhiri perbuatan si kecil dengan solusi kekerasan?

Bagian tubuh anak yang tidak boleh dipukul - Anak Menangis

Maka dari itu, Ibu, alangkah baiknya kita mengetahui bagaimana kita merespon anak ketika tidak sesuai ekspektasi kita. Dalam bukunya yang berjudul Secrets of the Baby Whisperer for Toddlers, Tracy Hogg menjelaskan ada beberapa kesalahan umum yang dilakukan orang tua di antaranya:

  • Menjelaskan secara berlebihan kepada anak: menurut Hogg, kesalahan pertama yang sering terjadi ketika orang tua mendisiplinkan anak adalah memberikan penjelasan yang berlebihan. Salah satu contohnya adalah ketika sang anak naik ke kursi dan orang tua malah menjelaskan akibatnya apabila ia naik ke kursi dan terjatuh. Padahal, alih-alih menjelaskannya panjang lebar, sebaiknya orang tua mengambil tindakan dengan cara menahan anak.
  • Tidak jelas menjelaskan sesuatu: seringkali sebagai orang tua, kita memberikan pernyataan yang sangat ambigu bagi anak seperti “Jangan, itu bahaya”. Sebaliknya, daripada kita mengucapkan seperti itu, kita sebaiknya mengucapkan “Jangan menaiki tangga, ya.” Kalimat kedua terdengar lebih spesifik dan jelas dibandingkan yang pertama.
  • Menganggapnya sebagai serangan pribadi: seringkali kita sebagai orang tua mengekspresikan kalimat seperti “Ibu, sangat sedih kalau kamu seperti itu.” Kalimat seperti itu justru tidak efektif untuk anak balita karena Ibu memberikan kontrol lebih pada anak.
  • Memohon/Meminta Maaf: Dalam mendidik dan mendisiplinkan anak, kita harus bisa mengendalikan emosi, salah satunya adalah menahan untuk mengemis atau meminta maaf. Hal ini dikarenakan kita tak punya kendali sebagai orang tua dalam mendidik mereka.
  • Tidak mengelola kemarahan: selain mengendalikan emosi dengan cara tidak meminta maaf, Ibu seharusnya juga mengendalikan kemarahan. Di sini, Ibu juga jangan mengancam mereka dan memendam perasaan marah. Lantas, apabila tidak boleh memendam rasa marah, apa yang harus kita lakukan ya? Tentu kita boleh marah, tapi lakukan dengan cara yang baik agar psikologis anak tetap sehat.

Dalam bukunya tersebut, Hogg juga memberikan peringatan kepada orang tua yang kehilangan kendali. Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa selalu mengontrol emosi dengan baik. Bahkan orang tua yang anti-memukul anak, bisa saja memukul mereka. Nah, apabila Ibu lepas kontrol, Hogg memberikan beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan:

  • Meminta maaf
  • Bercermin
  • Menilai situasi (rengekan, menangis, suara bising, atau masalah tidur)
  • Jangan merasa bersalah (meminta maaf sangatlah perlu, tapi meminta maaf secara berlebihan seperti bersimpuh di kaki anak justru membuat kita tidak punya wibawa di depan anak)

Dari penjelasan di atas, itulah mengapa memukul anak, meski terkadang terjadi karena kita lepas kontrol, tidak efektif untuk mendidik mereka, apalagi memukul dengan keras.

Selain itu, ada beberapa alasan mengapa memukul anak (bahkan memukul dengan keras), justru tidak solutif atau tidak menjadikan mereka anak yang disiplin, apa sajakah itu?

1. Anak Bisa Mengalami Trauma

Alasan pertama mengapa tidak disarankan memukul dalam mendidik anak adalah anak bisa mengalami trauma. Menurut The American Academy of Pediatric, anak bisa mengalami trauma apabila kita sering memukul dan memarahinya. Istilah medis ketika sang anak mengalami trauma akibat dimarahi atau dipukuli adalah post-traumatic stress disorder (PTSD).

Anak yang mengalami PTSD ini akan memunculkan gejala di antaranya susah tidur, mudah marah, susah berkonsentrasi, daya ingat buruk, sering melamun, sering ketakutan dan memilki rasa curiga, dan sering terkejut.

2. Tumbuh Menjadi Agresif

Sebuah studi menemukan bahwa hukuman verbal dan fisik yang dilakukan orang tua dengan cara yang keras atau bahkan kasar, kerap kali membentuk karakter anak yang agresif. Hal ini membuktikan bahwa mendisiplinkan anak dengan cara yang cenderung keras dan kasar memiliki dampak yang panjang.

3. Anak Tidak Memiliki Kendali Atas Tubuhnya Sendiri

Sebisa mungkin kita ajarkan anak sudah memiliki otoritas dan memiliki kendali atas tubuhnya agar ia bisa mengenali batas orang menyentuh dirinya, apalagi anak perempuan. Dengan memukul anak, orang tua akan mengambil kendali tubuh tanpa persetujuan anaknya. Apalagi dilakukan dengan frekuensi yang sering, anak tidak memiliki kendali atas tubuhnya sendiri atau juga anak juga tidak mengenali batasan atas tubuh orang lain.

4. Menjadi Sulit Belajar

Dari sebuah penelitian dari jurnal yang berjudul Human Brain Mapping menemukan bahwa memukul anak memengaruhi jariangan penghubung abu-abu atau gray matter yang memengaruhi mereka saat belajar.

Keempat poin di atas menunjukkan bahwa menghukum anak dengan kekerasan memengaruhi psikologis sang anak. Selain itu, ada beberapa bagian tubuh anak yang tidak boleh dipukul karena sangat rentan, di antaranya:

Pelipis

Bagian tubuh anak yang tidak boleh dipukul pertama adalah bagian pelipis. Bagian ini sangatlah tipis dan sangat rentan retak. Apalagi anak usia pertumbuhan memiliki pelipis yang sangat tipis. Selain itu, pelipis sangat memengaruhi saraf penglihatan anak. Lebih bahayanya lagi, kerusakan pada pelipis bisa berujung pada risiko kebutaan.

Kepala Belakang

Kepala adalah salah satu bagian tubuh anak yang tidak boleh dipukul yang paling sensitif. Kepala terlebih bagian belakang kepala juga tempat di mana pusat saraf dan pernapasan manusia berada. Pukulan yang terlalu keras pada kepala bagian belakang berisiko menimbulkan masalah serius pada tubuh anak seperti mual-mual, gangguan keseimbangan, dan gangguan pernapasan. Benturan pada kepala belakang juga menyebabkan peningkatan zat kimia yang bersikulasi di sumsum tulang belakang dan sekitar otak. Hal tersebut adalah penanda kerusakan pada otak.

Punggung

Anak-anak memiliki tulang belakang yang masih berkembang pada bagian punggung. Terdapat saraf-saraf penting ada di dalam punggung anak kecil, sehingga bagian punggung mereka sangat rawan. Maka dari itu, sebisa mungkin janganlah memukul bagian tubuh anak yang tidak boleh dipukul satu ini.

Bokong

Di budaya pop seperti film atau kartun, seringkali kita melihat anak yang dipukul bokongnya. Tindakan ini juga masih ada orang tua yang melakukan. Padahal memukul bokong sangatlah berbahaya karena bagian ini terdapat saraf sciatic yang apabila terkena pukulan keras akan membahayakan anak.

Related Posts

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Recent Stories