Pola Asuh Orang Tua dan Anak dengan Nature dan Nurture

Kehadiran anak dalam sebuah keluarga adalah hal yang sangat diinginkan oleh orang tua. Kehadiran anak dalam kehidupan merupakan salah satu tujuan dari sebuah keluarga. Namun, demikian seiring dengan tumbuhnya harapan tersebut, apakah orang tua sudah memahami seorang anak? Sering kali kita mendengar bahwa anak diibaratkan, seperti kertas polos yang siap untuk ditulis bahkan dibentuk. 

Dalam proses edukasi anak peran orang dewasa mendominasi setiap prosesnya. Seringkali orang dewasa memiliki pemikiran bahwa kitalah yang membentuk anak. Pernahkah kita menyadari bahwa anak-anak sejak lahir sudah memiliki kualitas diri sendiri? 

Desmond Morris dalam bukunya yang berjudul “Child” menyebutkan semua anak terlahir unik, mereka memiliki kapasitas dan kualitas diri sejak lahir. Mereka memiliki kemampuan untuk berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Perlu dipahami bahwa anak-anak bukanlah manusia “mini”, mereka memiliki pemikiran mereka sendiri. 

Oleh karena itu, perkembangan anak pada usia dini sangatlah penting dari mulai 0 tahun sampai dengan masa remaja. Sejalan dengan Morris (2010), Jean Piaget seorang ahli dalam bidang Psikologi dan Biologi berpendapat bahwa perkembangan anak-anak dapat dilihat dari perkembangan kognitif anaknya. Piaget terkenal melalui teori Cognitive Development.  

Melalui teori perkembangan kognitif tersebut, Piaget melihat anak-anak dengan beberapa karakteristik. Berikut beberapa karakteristik kognitif menurut Piaget. 

Pembelajar yang Aktif dan Memiliki Motivasi

Anak-anak terlahir sebagai pembelajar yang aktif dan memiliki motivasi. Hal ini dikarenakan anak-anak terlahir dengan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap segala sesuatu. Sehingga, mereka akan berusaha untuk mencari tahu terhadap situasi atau keadaan tertentu. Dengan cara mencari tahu, maka mereka akan mampu untuk memahami dunia sekitarnya dan membentuk logika terhadap situasi atau kondisi yang dialami.

Membentuk Pengetahuan dengan Pengalaman 

Anak-anak membentuk pengetahuan dengan pengalaman yang didapatkan. Piaget menyebut proses ini dengan istilah constructivism. Berarti anak-anak mampu membentuk pengetahuan dan pemahaman terhadap dunia sekitarnya melalui pengalaman. 

Misalnya, konsep abstrak dingin, anak-anak mampu memahami konsep dingin ketika mereka mengalami menyentuh atau merasakan ruangan atau air yang dingin. Melalui pengalaman dan pembiasaan, mereka dapat memahami dan menggunakan konsep dingin pada situasi atau keadaan tertentu. 

Perkembangan Kognitif Dipengaruhi oleh Lingkungan Sosial 

Anak-anak dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan adanya interaksi fisik dengan lingkungan sosial. Pengalaman yang terbentuk melalui interaksi fisik dapat membentuk pemahaman dan cara berpikir logis mereka. 

Interaksi sosial dapat terjadi pada objek konkret maupun interaksi sosial dengan manusia. Misalnya, bermain di pantai dengan menyentuh pasir dan air dapat memberikan stimulasi terhadap perkembangan pengetahuan anak. 

Contoh lain dapat dilihat melalui interaksi dengan manusia melalui pengalaman yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Melalui pengalaman tersebut anak mulai dilatih untuk mengenali manusia dan berlatih untuk menyelesaikan konflik yang dialami.

Lebih lanjut, Piaget melihat perkembangan anak dapat dilihat melalui beberapa tahapan perkembangan kognitif. Berikut tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget.

Tahap Sensori (Sensori Motor) 

Perkembangan kognitif tahap ini terjadi pada usia 0-2 tahun. Kata kunci perkembangan  kognitif  adalah tidak bisa memisahkan diri dengan dirinya sendiri. Pemisahan pemahaman terhadap diri sendiri dapat dilakukan pada tahapan berikutnya.  

Melalui tahapan ini, bayi bergerak mengikuti instingnya dan merespon terhadap simbol-simbol yang diberikan padanya. Anak pada usia bayi merespon apa yang terjadi pada dunia melalui pengalaman fisik dan mengikuti insting yang dirasakan. 

Tahap sensori ini anak berlatih menggunakan panca inderanya berupa pendengaran, penglihatan mereka dengan menyentuh dan sebagainya.  Piaget menjelaskan bahwa tahap sensori adalah tahapan penting yang dilalui anak-anak pada usia dini untuk mengembangkan kemampuan intelegensinya. 

Anak-anak pada usia dini mampu untuk melihat dan meniru apa yang dilakukan orang dewasa sehingga pemikiran yang dihasilkan pada tahapan ini adalah bersifat praktis.

Tahap Pra-Operasional (Pre Operational) 

Tahap perkembangan kemampuan kognitif ini terjadi pada rentang usia 2-7 tahun. Tahapan operasional adalah tahapan anak-anak mulai memberikan respon terhadap gambar ataupun warna yang diberikan padanya. Anak-anak mulai berlatih untuk melihat, berpikir dan berinteraksi secara simbolis walaupun pada tahapan ini anak-anak belum dapat berfikir secara logis, sistematis dan konsisten. 

Tahap Operasi Konkrit (Concrete Operational)  

Tahap operasi konkrit terjadi pada rentang usia 7-11 tahun. Pada tahapan berfikir ini , anak-anak mulai berlatih concrete to abstract.  Mereka sudah melatih cara berpikirnya dengan kegiatan-kegiatan yang konkret sehingga pengalaman yang didapatkan mampu untuk membentuk pemikiran logis anak.  

Anak pada tahapan ini mulai berlatih untuk mengklasifikasikan hal-hal yang konkret. Tahapan klasifikasi ini dapat melatih anak-anak untuk menyelesaikan permasalahan secara abstrak. Pemberian soal ataupun pertanyaan secara abstrak dapat diselesaikan dengan memberikan tahapan berfikir/ objek konkret sehingga dapat memberikan gambaran jelas terhadap situasi abstrak yang diberikan .  

Misalnya, anak dapat diberikan situasi abstrak sebagai berikut:

Pada suatu hari kakak diberikan permen oleh mama sejumlah 6 buah. Adik melihat kakak memiliki permen dan meminta untuk dibagi, maka kakak memberikan adek 2 permen. Berapakah permen yang kakak miliki sekarang ? 

Situasi di atas adalah salah satu contoh situasi abstrak sederhana yang dapat diberikan kepada anak – anak dalam mengawali cara berfikir logis mereka. Diskusi pada tahapan ini diperlukan untuk memberikan gambaran jelas situasi abstrak yang sedang dibahas. Penggunaan object konkret dianjurkan pada tahapan ini untuk memperjelas situasi abstrak yang dibahas. 

Tahap Operasi Formal (Formal Operational) 

Tahap operasi formal ada pada rentang usia 11 tahun hingga dewasa. Tahapan ini , anak- anak mulai memasuki tahapan remaja (teenagers). Mereka sudah mulai memahami hal-hal yang lebih valid dan abstrak. 

Kemampuan konsep secara matematis berkembang dengan pesat pada tahapan perkembangan ini. Anak Remaja mulai memahami berpikir secara hipotesis dan scientific. Pemikiran idealisme mulai berkembang dengan baik pada fase ini. 

Tahapan perkembangan di atas merupakan tahapan perkembangan yang paling umum untuk dilihat pada anak-anak usia dini sampai remaja. Peran orang tua sangatlah mutlak dalam perkembangan anak dan tidak dapat digantikan. 

Satu hal yang menjadi pedoman bagi orang tua dalam memahami perkembangan anak adalah membangun asumsi positif terhadap anak. Sehingga, anak dapat melihat dan merasakan lingkungan yang positif untuk mengembangkan diri. Tahap perkembangan diatas dapat kita diskusikan lebih lanjut dan mendetail melalui informasi yang akan diberikan lebih lanjut.  

Sumber:

Jean Amsel and James P Byrnes. Language , Literacy and Cognitive Development. U.S. 2002

Desmond Morris. Child .  UK . 2010

Leslie Smith, Julie Dockrell and Peter Tomlinson. Piaget, Vygotzky and Beyond: future issues for developmental psychology and education. London. 1997

Related Posts

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Recent Stories